Headlines News :

Ahli Jerman Kaji Cara Tenun Ulos Batak


Komunitas Batak memiliki pengetahuan tradisional bernilai tinggi tentang menenun Ulos Batak yang sayangnya dewasa ini sudah mulai ditinggalkan oleh para penenun Batak.

Padahal hasil tenunan dengan teknik tradisionl lebih bagus daripada menggunakan teknik modern, demikian pandangan pakar Etnologis Dr Sandra Niessen dalam acara pameran tekstil Ulos Batak di Gallery Smend, di Kota Koeln, Jerman.

Fungsi Pensosbud KJRI Frankfurt Hendriek Yopin dalam pameran tersebut Dr Niessen menayangkan secara detil bagaimana ulos ditenun dengan teknik tradisional yang sarat dengan nilai-nilai filsafat.

Melalui film singkat berdurasi 30 menit dengan judul "Rangsa ni Tonun" yang dibuat MJA Nashir dan setiap tahapan pembuatan ulos mengandung makna spiritual yang jika diurut bermuara kepada kebesaran Tuhan sang pencipta.

Konjen RI di Frankfurt, Damos Dumoli Agusman menyatakan kekagumannya atas upaya Dr Niessen dan Nashir merekonstruksi pengetahuan tradisional teknik menenun Ulos yang hampir saja menjadi bagian sejarah dari budaya Batak.

Dikatakannya alat tradisional tenun Batak memang sudah hampir punah karena beralih ke alat yang lebih modern. Namun demikian teknik pembuatan tradisional perlu didokumentasikan dan dilestarikan.
Pengetahuan tradisional  sedang diperjuangkan di forum World Intellectual Property Organization (WIPO) di Jenewa sebagai hak intelektual komunitas yang akan mendapat perlindungan dari perspektif HAKI, ujarnya.

Diharapkan dokumentasi ini akan membantu Pemerintah mengidentifikasi dan merekonstruksi kembali pengetahuan tradisional komunitas adat Indonesia yang mulai punah.
Hal ini dengan sendirinya memperkuat perlindungan HAKI terhadap kemungkinan diklaim komunitas atau Negara lain, ujarnya.

Menurut Konjen sudah tentu pengetahuan ini milik komunitas Batak dan upaya Niessen ini semakin memperkokoh kepemilikan orang Batak atas intelektual.

Pengetahuan tradisional dan direkonstruksi secara sistematis serta  dikemas dalam media yang dapat dipahami semua lapisan pengamat di dunia sehingga komunitas Batak tidak perlu lagi kuatir tentang titel kepemilikannya, ujar  Damos.

Dalam Film tersebut dikisahkan secara visual para penenun Batak menggunakan alat dan bahan-bahan yang sangat sederhana namun sangat kaya dengan makna filosofisnya.

Dalam penuturannya, Dr Niessen berhasil mengumpulkan data-data dari berbagai arsip tentang teknik menenun ini dan membuat kembali alat-alat tersebut.

Dia menunjukkan alat ini kepada sekelompok wanita Batak yang telah berusia lanjut dan tidak dapat membendung air matanya pada saat wanita tersebut memperagakan teknik traditional menenun dengan menggunakan alat-alat itu.

Mereka sudah lama tidak melihat alat ini namun memorinya masih sempurna untuk menggunakan apa yang dialami  pada saat remaja dan sayang sekali teknik ini tidak lagi berkembang dalam komunitas Batak dewasa ini, ujar Dr Niessen.

Pameran ini diselenggarakan Rudolf Smend, yang telah lama menggeluti teknik pembuatan Batik Indonesia dan dihadiri pakar tenun dan akademisi Jerman yang tertarik dengan Indonesia.

Dalam pameran tersebut hadir mantan misionaris Jerman yang pernah menetap di tanah Batak setelah era misionaris terkenal Jerman Dr Ingwer L Nomensen

kompas.com

Ada Ulos, Ada Batak


Sebagai artefak budaya, ulos mencoba terus beradaptasi dalam titian zaman. Kesetiaan dan kreativitas petenun menjadi penggerak keberlangsungan ulos. Sebab, tanpa ulos, tiada pula yang disebut sebagai Batak.

Kabut pagi yang tipis masih membayangi permukaan Danau Toba ketika tiga petenun muda di Samosir pergi mandi dan mencuci baju. Dina Simbolon (24), Royani Turnip (19), dan Bunga Nainggolan (18) berjalan beriring sembari membawa perlengkapan mandi. Hari itu, suplai air pipa di Desa Lumban Suhi-suhi di Pulau Samosir tak mengalir. Mandi di danau menjadi solusi praktis.

Sambil mencuci baju, Nani menyetel lagu di ponselnya. Lagu era 1990-an dari Michael Bolton, ”Said I Loved You but I Lied”, terdengar di antara suara kecipak air di tepian danau. Sementara itu, Dina dan Bunga sudah asyik mandi dan berenang di danau. ”Rencana saya sebenarnya pingin kuliah di fakultas hukum,” kata Nani dengan rona wajah malu-malu.

Dalam rangka merajut impiannya itulah, Nani kini tekun menenun ulos. Uang yang terkumpul dari ulos ditabungnya untuk modal sekolah di perguruan tinggi. Bagi banyak orang Batak, pendidikan merupakan hal yang teramat penting. Orang Batak tidak sudi menderita demi mencapai pendidikan tinggi. Tidak terkecuali perempuan. Tidak heran Nani pun memendam tekad serupa.

Terbang ke New York

Seperti juga temannya yang lain, gadis muda Batak kini mulai menekuni keterampilan menenun. Menenun menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga, selain bertani. Nani dan teman-temannya belajar menenun di bengkel tenun sederhana milik desainer tekstil Merdi Sihombing di Desa Lumban Suhi-suhi, Samosir, Sumatera Utara.

Sejak berbulan-bulan sebelumnya, bersama Lusi Nainggolan, istri Merdi, Nani dan temannya menenun ulos-ulos indah yang lalu dibawa Merdi ke New York, Amerika Serikat. Ulos-ulos sutra karya para petenun muda asal Samosir itu sejak 12 Maret hingga 27 Juli mendatang dipamerkan di Skylight Gallery, Charles B Wang Centre, Stony Brook University, New York. Pameran bertema ”Seas
of Blue: Asian Indigo Dye” itu diikuti empat negara saja dari Asia, yakni Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan India.

Merajut harapan 

Proses menyirat ulos

Dari bengkel sederhana tadi, sebuah harapan dirajut. Gadis-gadis muda Batak sudi menenun ulos sekalipun itu sebagai batu loncatan untuk meraih mimpi yang lain. Namun, setidaknya proses regenerasi petenun ulos telah menapaki jalannya. Dan, jalan itu menjadi niscaya ketika ulos dikemas Merdi menjadi bukan sekadar sebagai artefak budaya atau perangkat adat, melainkan juga sebagai komoditas mode.

Ulos secara umum menggunakan teknik ikat yang disebut gatip, yakni benang lungsi diikat sebelum dicelup pewarna, untuk mengisolasi bagian yang tak ingin diwarnai. Teknik ini memunculkan motif saat ditenun. Ulos kemudian diberi tambahan sirat, semacam pembatas di kedua ujung ulos yang dikerjakan oleh perajin sirat. Sirat biasanya mengambil motif gorga, ukiran khas pada rumah adat Batak.

Ulos karya para petenun muda binaan Merdi dibuat dari serat sutra alam dan pewarna alami dari dedaunan nila atau indigo (Indigofera tinctoria) yang banyak tumbuh subur di kawasan Danau Toba. Indigo inilah yang zaman dahulu—sebelum dikenalnya pewarna kimia—digunakan para petenun ulos. Bagi Merdi, penggunaan kembali pewarna indigo merupakan hasratnya untuk mengembalikan kekhasan sejati ulos dari masa lampau dalam konteks zaman terkini.

Beradaptasi dengan zaman juga menjadi jalan yang ditempuh tenun uis gara—sebutan untuk ulos—di Tanah Karo. Sahat Tambun, pemilik usaha tenun uis Trias Tambun di Kabanjahe, mengolah uis gara bukan sekadar untuk keperluan adat, melainkan juga aneka kerajinan dan ornamen hiasan interior. Bahkan, Sahat juga berkreasi memodifikasi motif. Salah satunya dengan memadukan motif khas Karo, yakni legot, dengan motif lurik, salah satu tenun khas Jawa. Hasilnya amatlah menawan.

Lain lagi kreasi yang dicipta petenun hiou (ulos) Bob Damanik di Pematang Siantar. Sebuah alat tenun bukan mesin (ATBM) berukuran cukup besar menyesaki bagian belakang rumahnya. Dengan alat tenun ini, Bob menenun sekaligus membuat gatip. Jalinan benang lungsi yang sudah tersusun pada alat tenun sebagian diisolasi dengan bilah-bilah bambu sesuai motif gatip. Bob kemudian mengambil pewarna dan mengecat benang yang tak terisolasi bambu. ”Lihat, tinggal cat benang langsung kering, jadi sudah gatip,” ujarnya terkekeh.

Dengan cara begitu, Bob berhemat waktu banyak dalam proses membuat gatip. Sehelai hiou bermotif tapak catur pun dapat selesai dalam waktu sehari-dua hari saja.

Kesakralan tereduksi

Menurut antropolog Universitas Negeri Medan, Bungaran Simanjuntak, tak ada catatan pasti sejak kapan orang Batak membuat tenun. Diperkirakan, tenun ulos telah ada sejak ribuan tahun lampau seiring terbentuknya masyarakat Batak itu sendiri. Ada ulos, ada Batak.

Dalam buku Seni Budaya Batak yang ditulis Jamaludin S Hasibuan (1985), teknik ikat dalam tenun Batak berasal dari kebudayaan Dongson yang berkembang di kawasan Indochina. Kain tenun ulos sejatinya merupakan selimut pemberi kehangatan. Ada tiga unsur pemberi kehangatan dalam kehidupan orang Batak zaman dahulu, matahari, api, dan ulos. Ulos dikenakan sebagai penjaga keselamatan tubuh dan jiwa pemakainya.

”Dahulu, sebelum masuknya agama dari Barat dan Timur Tengah, pembuatan ulos selalu tergantung dari pesanan dan dikaitkan dengan jiwa si pemesan. Namanya, usianya, asalnya, waktu keperluannya selalu ditanya oleh petenun. Oleh karena itu, pembuatan ulos selalu berlatar belakang kekuatan mistik sehingga ulos berfungsi protektif kepada pemakainya,” papar Bungaran.
Pekerja menunjukan contoh cetakan untuk motif tenun uis (ulos) Karo di usaha tenun menggunakan alat tenun bukan mesin TriasTambun di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara.


Selain sebagai pakaian, penanda kedudukan, penanda kelompok, dan perangkat adat, ulos juga menjadi pengikat kasih sayang antar-sesama manusia. Bahkan, segala bentuk hadiah dari pihak perempuan kerap disebut ulos walaupun bukan dalam bentuk kain.

”Waktu saya menikah dan ikut suami, ibu saya memberi ulos sitolu tuho yang dia tenun sendiri, sambil berpesan, kalau saya rindu dia, tinggal peluk erat-erat ulos pemberiannya,” kata Lasma Nainggolan (58), pedagang ulos di Pasar Horas, Pematang Siantar.

Seiring zaman dan masuknya agama modern, sebagian besar masyarakat Batak tak lagi melakoni kepercayaan yang dianut para leluhur. Sejak itulah, menurut Bungaran, kesakralan ulos dari segi magis tereduksi. Kesakralan ulos beralih, dikemas dalam bingkai keagamaan, tanpa menyerap lagi unsur kemagisan.

Meski zaman terus berubah dan kepercayaan leluhur ditinggalkan, bagaimanapun sulit menjadi Batak tanpa ulos. Ulos pada masa kini mungkin memang tak lagi berfungsi magis sebagai penjaga jiwa, tetapi penjaga identitas budaya bagi masyarakat Batak. Di dalam setiap helai benangnya termuat sejarah yang menjadikan identitas Batak ada.


Oleh Sarie Febriani | Kompas Cetak 30 Maret 2014
Foto Kompas.com

Danau Toba Resmi Menjadi Kawasan Geopark (Taman Bumi)

Disamping meresmikan bandara Kualanamu Kamis lalu (27/03/2014) Presiden SBY juga mengukuhkan Danau Toba menjadi Geopark Caldera Toba.

Oki Oktariadi, penyidik geologi dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan, pengukuhan Danau Toba menjadi Geopark Caldera Toba harus dilakukan agar bisa segera diajukan ke UNESCO untuk ditetapkan menjadi Geopark Global Network (GGN) Caldera Toba.

"Geopark (taman bumi) Danau Toba itu punya keunikan geologi tersendiri. Pengukuhan ini sebagai penguatan untuk diajukan ke UNESCO karena secara nasional sebenarnya sudah ditandatangani,” katanya.

Ia mengatakn sudah banyak geopark ditetapkan UNESCO, namun di Indonesia saat ini baru Danau Batur, Bali, yang ditetapkan sebagai GGN. "Kami optimistis Caldera Toba akan ditetapkan sebagai GGN. Target kami pada 2015 UNESCO sudah mengeluarkan keputusannya,” ujarnya.

Dengan menjadi geopark dunia, Caldera Toba akan memiliki fungsi edukasi dan pengembangan masyarakat. Kondisi Danau Toba memang harus ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. Dengan menjadi GGN, akan ada perbaikan karena menjadi milik dunia.

republika online

Lagu Batak Go Internasional ??


Batak “jago” nyanyi ?? Banyak orang telah menyematkan gelar itu. Tak hanya dalam hal tarik suara, ternyata banyak yang kagum akan lagu lagu batak ciptaan para komponis batak. Lokal maupun Internasional lagu lagu batak sudah pernah dikumandangkan. Pernah dengar lagu sik sik sibatumanikkam ?  Lagu ini telah beberapa kali dibawakan oleh group paduan suara asal Indonesia diberbagai lomba di luar negeri. Yanng membanggakan lagi , Lagu ini juga  pernah dibawakan oleh beberapa Group Paduan suara dari luar negeri seperti Korea, Thailand juga singapura.  Hebatnya,  pelafalan para anggota paduan suara yang membawakan lagu ini nyaris sempurna, padahal   mereka bukanlah orang batak, jangankan orang batak bahkan bukan warna negara Indonesia. Diberbagai label kaset maupun Video dicantumkan bahwa lagu Sik sik sibatumanikkam merupakan lagu ciptaan dari.NN (No Name)

Berikut ini Video dari beberapa Choir luar negeri  yang pernah membawakan lagu Sik Sik Sibatumanikkam


Lagu Sik Sik Sibatumanikkam dibawakan oleh Paduan Suara asal Korea "Inchoen CIty Chorale"


Lagu Sik Sik Sibatumanikkam dibawakan oleh Paduan Suara asal Thailand , "Thai Youth Choir"




Lagu Siksik SIbatumanikkam dibawakan oleh paduan Suara Asal Singapura"Meridian Junior College Choir" pada sebuah Loba di Ceko

Jika tadi dalam kategory Group Paduan Suara, yang satu ini tak kalah hebatnya :D, Ada seorang Musisi sekaligus Komponis terkenal kewarganegaraan Austria yang kepincut dengan kekhasan lagu Batak, Herman Dellago. Beliau pertama kali mendengarkan Lagu Batak yang berjudul Butet ketika ia sedang berkunjung ke Bali tahun 1995, "Meski lagu Butet itu begitu simple namun lagu ini terdengar unik", ungkapnya

Sebelumnya ia memang telah dekat dengan Batak, Beliau menikah dengan Gadis Batak Boru Sidabutar, ia pun mendapat gelar Marga Manik. 

Ketika ia mengunjungi pulau samosir, lagu unik sejenis Lagu Butet kian banyak ia dengar, di Samosir ia mendengarkan lagu lagu batak dinyanyikan di Lapo Tuak. "Lagu Batak jaman dulu memiliki Melodi yang unik" , kagumnya

Ketika kembali ke negaranya, Ketertarikannya akan lagu lagu batak menghasilakn gubahan lagu lagu batak yang dulu pernah ia dengar , Lagu lagu tersebut diaransemen bersama dengan group orchestranya. Lagu Didia Rongkaphi, Butet, Boasama Sai Marsak ho, Boru Panggoaran , lagu lagu yang sudah hits di tanah batak digubahnya dengan gaya dan kemampuan aransemenya sehingga melahirkan lagu batak yang kian unik, Lagu lagu batak aransemennya ini ditampilkan dalam sebuah konser bersama group Orchestranya dan para singer asal Austria.

Kecintaanya akan lagu Batak akhirnya mempertemukanya dengan salah satu Musisi dan Komponis Indonesia berdarah Batak, Viky Sianipar, Viky Sianipar dikenal menadi salah satu Komponis Inonesia yang Concern pada aliran World Musik, termasuk Musik Etnik Batak. Alhasil Kedua Komponis Beken ini berkolaborasi dalam sebuah Album Berjudul "TOBATAK" lagu yang berisikan lagu lagu hits Batak jaman dulu hingga masa kini. Lagu Lagu tersebut dijual ke pasar dunia melalui situs Penjualan Online Amazone, dan peringkat penjualanya sangat membanggakan.

Berikut ini beberapa Video Konser Herman Delago membawakan lagu batak yang pernah ia adakan di Luar Negeri :


Herman Dellago - Marokkap Dung Matua


Herman Dellago feat StadMusic IMST



Herman Delago feat Daniela Strum

Berikut ini Video Kolaborasi Herman Dellago dengan Viky Sianipar pada Album "TOBATAK"
Hermann Dellago feat Viky Sianipar - Sipata (Album TOBATAK)



Hermann Delago feat Viky Sianipar - Butet (Album TOBATAK)


Satu lagi lagu Batak yang sudah Go Internasional, Kenal Tongam Sirait ?? tentunya para pecinta lagu batak sudah pernah mendengarkan lagu lagu ciptaan Bang Tongam Sirait, Musisi Pencipta lagu asal Parapat. Salah satu lagu Ciptaanya yang menjadi Hits di dalam Albumnya ketika masih berkolaborasi dengan Viky Sianipar " Mengkel Nama Ahu" (Aku Hanya Bisa Tertawa) dipinang oleh Band yang terkenal di Romania , Voltaj Band. Band ini kepincut dengan alunan Lagu Mekkel Nama Ahu, Atas sepengetahuan Pemilik asli lagu ini, Voltaj Band menggubah lagu ini kedalah Bahasa Romania berjudul " Ultima Secunda". Band ini pun mengundang Tongam Sirait untuk berkolaborasi langsung dalam konser yang mereka gelar di Romania.

Berikut Video Konser Voltaj Band feat Tongam Sirait dalam sebuah Konser di Romania : 
Lagu Mekkel Nama Ahu dinyanyikan dalam 2 Bahasa, Romania dan Batak

Sungguh membanggakan, kita punya potensi Dunia juga telah mengakuinya, ayo tunjukkan talentamu. Semoga potensi potensi generasi batak kian berkembang dan mampu menembus kancah Internasional, Bravo Bangso Batak, Batak Go Internasional

Penulis & Editor : Marga Purba
Video : Youtube

Sumatera Loom Gallery, Museum Kain Tenun di Kota Medan

Medan kini punya museum kain tenun tradisional, Sumatera Loom Galery. Museum di Jalan Sultan Hasanuddin ini digagas oleh pecinta tenun, Torang Sitorus, dan diresmikan Ketua Pecinta Tenun Indonesia Okke Hatta Rajasa, Jumat (21/3).

Founder Sumatera Loom Galery, Medan, Torang Sitorus mengatakan, Sumatera Loom Galery merupakan ruang pamer atau etalase bagi aneka ragam kain tenun tradisional dari berbagai daerah di Sumatera. Di museum seluas 360 meter persegi ini terdapat lebih dari 500 helai kain tenun, termasuk ulos Batak asal berbagai daerah di Sumatera Utara (Sumut), kain songket Minangkabau asal Sumatera Barat (Sumbar), dan kain songket Palembang asal Sumatera Selatan (Sumsel).

Bagi dia, pendirian museum itu tidak semata-mata untuk bisnis, tapi di dalamnya juga terdapat edukasi pengenalan tahapan tekstil dan tenun. ”Galeri ini didirikan untuk menumbuhkembangkan semangat revitalisasi dan pelestarian kain tenun tradisional Sumatera serta meningkatkan kepariwisataan di Sumatera dan Medan khususnya,” kata Torang seusai peresmian Sumatera Loom Galery.

Torang mengungkapkan, sejak dulu hidupnya dekat dengan kain karena keluarganya mencintai kain tenun seperti ulos dan songket. Kecintaan terhadap kain tenun itu akhirnya menular pada Torang yang bermimpi membangun sebuah museum kain tenun. ”Museum ini mimpi saya sejak sepuluh tahun lalu, apalagi setelah melihat ada Rahmat Galeri di Medan. Ini peran saya untuk Sumut. Saya tidak tahu apakah saya mampu, tapi saya harapkan support dari semua kalangan,” ujarnya.

Dia menambahkan, sebagai lembaga, Sumatera Loom sudah berdiri sejak 2013. Dengan adanya berbagai fasilitas seperti ruang tenun, perpustakaan, butik, dan kafe di lokasi itu, dia berharap akan semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk bersama-sama ikut menjaga warisan budaya kain tenun tradisional Sumatera yang tak ternilai harganya. Sementara Ketua Pecinta Tenun Indonesia yang juga istri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, Okke Hatta Rajasa mengatakan, tenun telah menjadi bagian dari kehidupan Nusantara.

Sebagai pecinta tenun Indonesia, pihaknya berupaya melestarikan tenun melalui berbagai program mulai dari pemberdayaan kerajinan, pemasaran produk, hingga pengetahuan terkini tentang tenun. Dengan berbagai upaya itu tenun bisa terus dilestarikan. Dia mengapresiasi upaya Torang Sitorus yang membangun Sumatera Loom Galery. Museum itu diharapkan dapat menjadi penyemangat dan inspirasi bagi pecinta dan penggiat industri tenun tradisional untuk mengembangkan budaya daerah.

”Saya mengapresiasi Torang Sitorus yang membangun Sumatera Loom Galery. Saya percaya Torang dapat melakukannya,” tutur Okke setelah meresmikan Sumatera Loom Gallery, Medan, kemarin. Wakil Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi juga mengapresiasi Torang Sitorus yang mendirikan museum kain tenun Sumatera itu. Apalagi museum tersebut baru pertama kali ada di Sumut.

”Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi pecinta budaya, khususnya wastra tradisional seperti Torang Sitorus. Hal ini agar upaya pelestarian dapat berjalan baik,” katanya. Erry mengatakan, dukungan seluruh lapisan masyarakat yang cinta terhadap wastra tradisional sangat diharapkan. Museum kain tenun tradisional itu merupakan salah satu wadah yang efektif untuk belajar mengenali identitas wastra tradisional secara mendalam sesuai dengan asal daerah masingmasing.

”Kita berharap hasil karya anak bangsa seperti Torang Sitorus ini dapat dibawa hingga ke tingkat nasional, jika perlu ke tingkat internasional. Tidak hanya itu, dewan kerajinan nasional (dekranas) kabupaten/kota juga diharapkan bisa membangkitkan tenun di daerahnya masing-masing,” katanya.

koransindo

Alasan dan Cinta


Alasan dan Cinta
(October 15, 2013)

Alasan merupakan bagian yang sangat penting dalam segala hal kehidupan manusia. Alasan menjadi dasar dari pertimbangan untuk kita mengambil keputusan apakah kita melakukan atau tidaknya suatu hal. Ketika kita punya alasan mengapa kita harus belajar keras tiap hari, maka kita adalah pelajar yang mempunyai tujuan. Ketika saya tahu alasan mengapa saya menulis catatan ini, maka saya adalah penulis yang baik. Ketika kita mengetahui alasan mengapa Einstein menyebutkan rumus E=mc^2 maka kita tidak sekedar hapal rumus tersebut, tapi kita juga paham dan mengerti konsep dari formula tersebut.

Alasan juga menjadi dasar dari segala ilmu pengetahuan. Ketika Newton tahu alasan mengapa buah apel jatuh dari dahannya ke bawah, maka dia telah menemukan apa yang sering kita sebut dengan Gravitasi. Ketika Nicolaus Copernicus tahu alasan mengapa bumi berputar dan yang terjadi di tata surya, maka dia telah menemukan Teori Heliosentris. Ketika Archimedes tahu alasan mengapa air dari bak mandinya tumpah ketika dia ketika berendam, maka dia telah menemukan Hukum Archimedes.

Lebih jauh lagi alasan juga ikut menjadikan manusia hidup. Ketika seorang manusia tidak mempunyai alasan untuk hidup, maka ia akan mati saat itu juga.

Tapi seorang petualang asal Amerika Christopher McCandless menyatakan, "If we admit that life can be ruled by reason, then all possibility of life is destroyed.". Bukan berarti saya tidak setuju dengan pendapat beliau tersebut, bahkan saya sangat setuju dengan pendapat itu. Ketika seseorang tidak memerlukan alasan mengapa dia berjalan-jalan di pinggir jalan raya sambil tersenyum kadang tertawa, maka dia adalah orang gila. Dalam hidup sehari-hari kita harus banyak melakukan kegilaan, tapi tidak seperti orang gila dicontoh sebelum kalimat ini yang mengartikan gila sebagai penyakit. Berkaitan dengan kegilaan, mungkin bahasa yang lebih sopannya adalah cinta. Ketika anda merasa tidak memerlukan alasan untuk belajar keras, maka anda gila belajar atau seperti bahasa lebih sopannya anda mencintai kegiatan pembelajaran. Ketika saya tidak tahu alasan mengapa saya masih menyimpan sepatu saya yang sudah rusak, maka saya mencintai sepatu saya tersebut. Ketika anda tidak butuh alasan untuk mengampuni kesalahan yang dilakukan oleh kekasih anda, maka anda mencintainya.

Cinta yang biasa disebut-sebut oleh orang-orang yang pacaran juga merupakan kegilaan yang tidak membutuhkan alasan. Saya pernah dengar Budayawan Indonesia Sujiwo Tejo menyatakan, "Mencintai itu tidak butuh alasan, ketika kamu mulai menemukan alasan untuk mencintai, maka itu bukan lagi cinta tapi nafsu.". Saya sangat setuju dengan pendapat Mbah Tejo tersebut. Terima buat beliau atas pendapatnya. Ketika anda tidak tahu alasan mengapa anda memilih dia sebagai kekasih anda, maka saat itulah anda mencintainya. Ketika Bu Ainun tidak tahu alasan mengapa dia memilih orang yang paling keras kepala dan paling sulit yang pernah dia kenal sebagai suaminya, bahkan beliau akan memilihnya sekalipun misalkan dia mampu mengulang untuk memilih kedua kalinya, maka saat itulah Bu Ainun mencintai Pak Habibie(Film Habibie Ainun).

Tapi tidak sekedar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu alasannya, maka anda boleh didefisikan telah mencintai si dia dengan baik. Lebih jauh lagi, menurut saya ketika kita telah benar-benar memberikan cinta yang sebenarnya, maka telah terpancar energi dari diri kita untuk selalu mencintai si dia. Energi cinta yang tidak dapat dihentikan/diganggu oleh alasan atau ruang yang dibentuk/direntang oleh alasan (dalam hal ini alasan untuk tidak lagi mencintai si dia). Kemudian mengikuti apa yang kita kenal dengan hukum kekekalan energi, maka energi cinta tersebut seharusnya tidak akan mati/hilang oleh karena apapun termasuk oleh karena situasi, kondisi dan waktu. Ketika anda bisa tetap mencintai dia sekalipun dia telah pergi, maka anda telah memancarkan energi cinta tersebut. Ketika anda bisa tulus dan ikhlas mencintai dia sekalipun si dia telah memilih hidup bersama orang lain, maka anda telah memiliki energi cinta tersebut. Ketika anda telah benar-benar bisa bersyukur dan ikut berbahagia ketika melihat si dia telah bahagia dengan orang lain, maka anda telah memiliki energi cinta tersebut. Dan menurut saya itu so sweet banget dah. hahaha

Terima kasih, semoga bermanfaat. 

Sedikit tentang saya:
Nama Lengkap : Donny Perdana Ambarita
TTL : Bintatar, 21 Mei 1994
No.HP : 082364964053
Email : perdana217@gmail.com
Alamat : Wisma SY, Jl. Margonda Raya No.531, Depok
Pekerjaan : Saat ini saya merupakan salah satu Mahasiswa tingkat dua di Universitas Indonesia, Fakultas MIPA, jurusan Matematika.
Asal : Saya berasal dari Bintatar, Desa Garoga, Kec:Simanindo, Kab:Samosir, Sumatera Utara.

ingin berbagi tulisan di mahasiswabatak.com. kirim tulisanmu disini

Sejarah dan Makna Lagu "BUTET"


Tak hanya orang Batak, Lagu ini bahkan sudah familiar bagi banyak orang diluar suku Batak. Lagu BUTET. Lagu yang mengalun dengan tempo pelan dan mendayu ini memang telah melegenda. Bagi anda yang belum tahu, Butet merupakan nama panggilan yang diberikan kepada seorang Bayi Perempuan yang belum diberi Nama secara "resmi". Untuk bayi laki-laki dipanggil dengan sebutan "Ucok". Lagu Butet merupakan salah satu Lagu Wajib Nasional, yang masuk dalam Kategori Lagu Perjuangan.

Berikut ini Lirik dari Lagu Butet : 

Butet dipangungsian do amangmu ale butet
Da margurilla da mardarurat ale butet
Da margurilla da mardarurat ale butet

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Butet sotung ngol-ngolan rohamuna ale butet
Pai ma tona manang surat ale butet
Pai ma tona manang surat ale butet

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Butet tibo do mulak au amangmu ale butet
Masunta ingkon saut do talu ale bute
Musunta ingkon saut do talu ale butet

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Butet haru patibu ma magodang ale butet
Asa adong da palang merah ale butet
Da palang merah ni negara ale butet

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Jika diartikan secara menyeluruh kedalam Bahasa Indonesia, lebih kurang artinya seperti ini : 

Butet...Ayah mu sedang berada di pengungsian, 
Bergerilya dalam darurart oh..butet (2x)
Butet..Janganlah pernah jemu hatimu puteri ku..
Menanti kabar berita oh butet

Ayah mu akan cepat pulang oh butet
Musuh kita harus dikalahkan oh butet

Butet...Cepatlah Besar anakku...
agar kelak kau menjadi Palang Merah
Palang Merah Negara Kita

Dari lirik dan pengertian Lagu Butet diatas, sedikit banyaknya kita telah mengetahu pesan/makna dari Lagu ini.  

Bagaimana Sebenarnya Kisah dibalik Lagu Butet ini ? Konon Lagu Butet diciptakan dan berkumandang pertama kalinya di Gua Nagar Timbul yang letaknya berada di tengah Hutan Naga Timbul, Kecamatan Sitahuis Kabupaten Tapanuli Tengah. Menurut pengakuan warga Nagatimbul dan juga warga Sitahuis bahwa syair asli lagu Butet itu adalah seperti berikut. 

“Butet…di Sitahuis do Amangmu ale Butet…
damancentak hepeng Orita ale Butet…
damancetak hepeng Orita ale Butet.."

Menurut pengakuan warga Sitahuis dan Desa Nagatimbul bahwa lagu itu dinyanyikan br Tobing warga Sitahuis sewaktu menina bobokan borunya (Butet dalam bahasa batak).

“Menurut sejarah, bahwa lagu Butet itu dinyanyikan di Gua perjuangan yang terdapat di hutan Nagatimbul ini, dimana masyarakat Sitahuis dan Nagatimbul bersembunyi di gua tersebut, sementara kaum pria waktu itu berada di Sitahuis untuk berjaga-jaga dan sebagian ada yang mencetak uang ORITA (Oeang Republik Tapanoloe, yang merupakan ejaan lama). Dimana waktu itu tempat percetakan uang ORITA adalah di Sitahuis. Sewaktu Putri br Tobing ini yang disebut Si Butet mau tidur ibunyapun menina bobokannya dengan lagu Butet,”

Setelah Sitahuis dikuasi Belanda dan menjadikan Desa Sitiris yang masih satu Kecamatan dengan Sitahuis menjadi markas Belanda, percetakan uang Orita itupun dibakar sibontar mata (sebutan bagi Penjajah Belanda) namun mesin cetak uang tersebut masih sempat diselamatkan dan dibawa kedalam gua perjuangan di hutan Nagatimbul. Aktivitas percetakan uangpun sempat berlanjut di gua tersebut, namun sangat disayangkan bahwa mesin cetak uang itu tidak diketahui dimana keberadaannya hingga saat.

“Kami tidak tahu lagi kemana mesin cetak tersebut dibawa para pejuang kita dulu, hanya saja menurut sejarahnya di gua perjuangan yang berada di hutan Nagatimbul masih sempat dicetak uang ORITA sebagai alat tukar yang sah waktu itu. Makanya Belanda terus mengejar dan berusaha untuk mengambil percetakan tersebut. Namun sangat disayangkan mesin cetak itu sampai saat ini tidak diketahui dimana keberadannya, apakah berhasil dibawa Belanda atau tidak,”aku Kepala Desa Nagatimbul R Pasaribu.

Menurut pengakuan Camat Sitahuis Joseph dan juga pemilik rumah yang berada dikawasan perkantoran Camat Sitahuis dan warga Sitahuis membenarkan bahwa di rumah Andareas Aritonang uang ORITA tersebut dicetak.

“Memang benar inilah rumah yang menjadi bukti sejarah tempat dicetaknya ORITA, memang rumah ini sudah mengalami pemugaran namun hanya bagian depan saja, itupun kami jadikan sebagai warung, sedangkan pada bagian tengah rumah dan loteng rumah ini masih bawaan rumah dulu. Dan diruang tengah inilah uang tersebut dicetak,”aku T br Simatupang (Op Jesri) 

Lebih lanjut Op Jesri yang sudah berusia 81 tahun ini menuturkan, Belanda terus mencari dimana lokasi percetakan uang ORITA, karena dengan adanya uang ORITA, maka uang Belanda tidak berlaku waktu itu, akunya. Namun sangat disayangkan bahwa uang tersebut tidak adalagi dimiliki Op Jesri dan juga keluarganya.

“Memang dulu ada saya simpan, tapi saya tidak terfikir bahwa uang itu akan berarti nantinya, makanya keberadaan uang tersebut tidak terlampau kami pedulikan saat itu,”kata Op Jesri.

Op Jesri juga tidak mengingat lagi kapan uang tersebut dicetak di Sitahuis, demikian juga dengan warga sekitarnya, mereka hanya mengingat bahwa dirumah Andareas Aritonang uang ORITA dicetak, sedangkan dibagian depan rumah tersebut duluny ada gudang yang menjadi tempat penyimpanan barang-barang percetakan dan juga peralatan perang pejuang Tapanuli dulunya.

Sekarang kawasan tersebut suda berdiri rumah tinggal penduduk, termasuk dilahan yang dulunya gudang sudah menjadi rumah penduduk, sedangkan dikawasan sekitarnya sudah berdiri kantor Camat Sitahuis. Warga juga berharap agar bukti-bukti sejarah yang masih tertinggal dapat dirawat dan dilestarikan, karena suatu saat hal itu menjadi bukti sejarah yang sangat berarti bagi generasi berikutnya, apalagi Propinsi Tapanuli sudah terwujud nantinya akan menjadi sejarah baru bagi Propinsi Tapanuli yang kita harapkan dapat segera terwujud, harap warga.

berbagaisumber

Tips Membuat Curriculum Vitae (CV) bagi Pelamar Kerja tanpa Pengalaman Kerja

Membuat curriculum vitae (CV) bisa menjadi sebuah tantangan bagi para lulusan baru. Apalagi jika tidak memiliki pengalaman kerja. 

Jangan khawatir, ada cara kok untuk mengatasi masalah ini. Tentu saja, Anda mungkin tidak memiliki pengalaman kerja karena baru lulus, tapi Anda bisa jadi memiliki beberapa pengalaman magang atau praktik kerja lapangan (PKL). Selain itu, bisa jadi Anda memiliki keterampilan tambahan di kampus.

Berikut beberapa cara untuk membuat CV menonjol, seperti dilansir College Cures, Sabtu (8/2/2014):

1. Keterampilan

Jika Anda tidak memiliki pengalaman kerja, tempatkan keterampilan Anda pada bagian atas CV. Perusahaan paling tertarik pada apa yang dapat Anda lakukan untuk perusahaan dan apakah keterampilan Anda sesuai dengan job desk pekerjaannya. Anda bisa menghubungkan kedua hal ini kembali ke latar belakang pendidikan dan apa yang telah Anda pelajari sejauh ini.

2. Tambahkan Portofolio atau Link Blog

Pihak perusahaan ingin mengenal pelamar sebelum mempekerjakannya. Portofolio adalah cara yang bagus untuk memamerkan karya sambil menunjukkan sedikit kepribadian. Blog juga merupakan kesempatan untuk membantu pihak perusahaan mengenal Anda. 

3. Sertakan Pengalaman Kerja Sukarela

Pengalaman kerja sebagai sukarelawan tampak hebat di CV. Jika Anda memiliki pengalaman ini, jangan lupa untuk memasukkannya. Jika Anda tidak memiliki pengalaman sebagai relawan, sekarang mungkin waktunya untuk mulai menjadi relawan dan membantu membangun CV Anda.

4. Tambahkan Penghargaan atau Prestasi

Karena Anda baru lulus kuliah, Anda dapat menambahkan penghargaan atau prestasi dari kampus. Tentu saja, ini menambah nilai plus pada surat lamaran kerja dan menunjukkan Anda seorang pekerja keras. (rfa) 

okezone

Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Negeri Medan (Unimed) Bebaskan SPP ke Korban Sinabung

Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Negeri Medan (Unimed) akan membebaskan uang kuliah bagi mahasiswa yang terkena dampak bencana meletusnya Gunung Sinabung.

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Ukus Kusawara, saat konferensi pers update penanganan Sinabung dan Dukungan Potensi Nasional, di Kantor BNPB, Jakarta Pusat, Rabu (5/2/2014).

"Perguruan tinggi seperti Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Negeri Medan (Unimed) membebaskan SPP untuk siswa yang terdampak," ungkap dia.

Selain itu, tambah Ukus, USU akan melakukan bimbingan belajar anak sekolah yang akan melaksanakan Ujian Nasional (UN). Sekadar informasi, UN akan dilaksanakan pada April 2014.

Adapun penanganan bencana, khususnya bagi masyarakat pengungsi akibat erupsi gunung api, akan terus dilaksanakan sampai dengan kondisi dinyatakan aman oleh PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM.

okezone

Mobil Rakitan TIM HORAS Universitas Sumatera Utara (USU) Paling Irit se-Asia

Tim Horas dari Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, berhasil menyabet gelar juara dalam ajang Sheel Eco Marathon (SEM) Asia 2014 di Manila, Filipina. Horas USU menyabet juara 1 dan juara 2 dalam lomba mobil rakitan teririt yang diikuti oleh 15 negara dari Asia dan Timur Tengah.

Ketua Tim Horas Mesin, Himsar Ambaritha mengaku puas dengan capaian ini. Timnya berhasil menyingkirkan pesaing dari Malaysia, Thailand, Vietnam dan tuan rumah, Filipina.

"Kita puas bisa menang. Langsung kita kasih kabar ke Medan, pihak kampus, rektor, keluarga senang sekali. Apalagi kami ini bawa nama negara di ajang internasional," ujar Himsar saat ditemui usai penganugerahan juara di Manila Hotel, Rizal Park, Manila, Filipina, seperti dilansir Detik.com.

Himsar menjelaskan, ada dua tim yang diturunkan USU dalam lomba mobil rakitan mahasiswa ini. Keduanya berlaga di kelas Urban Concept.

"Tim Horas Mesin juara satu di UrbanConcept bahan bakar ethanol. Tim Horas USU juara dua di UrbanConcept bahan bakar diesel. Kami puas, apalagi bisa menyingkirkan negara Asia lainnya seperti Malaysia dan Thailand," ucapnya.

Untuk di Urban Concept bahan bakar ethanol, Tim Horas Mesin berhasil menempuh jarak 101,4 Km per liter. Sedangkan Urban Concept diesel Tim Horas USU berhasil menempuh jarak 57 Km per liter.

"Sebenarnya waktu kita latihan bisa lebih jauh jaraknya. Tapi tak apa, kita menang. Dan kita juga takut di ethanol, karena kita dikelilingi tim dari Malaysia, yang sudah berpengalaman. Tapi alhamdulillah kita menang," tambahnya

Tim Horas pertama kali mengikuti kejuaraan ini pada tahun 2012 di sirkuit Sepang, Malaysia. Sayang pada saat itu Horas tidak berhasil membawa piala.

"Dari situ kami banyak belajar, akhirnya kami bisa juga juara," katanya.

Dengan capaian ini, Himsar berharap pihaknya dapat lebih diperhatikan pemerintah, terutama dari segi biaya Sebab untuk membangun mobil rakitan irit bahan bakar ini membutuhkan biaya hingga Rp 70 juta perunitnya. Belum lagi untuk biaya pengiriman ke Manila yang menghabiskan biaya hingga Rp 100 juta.

"Gubernur juga dulu janji, waktu kita juara satu di Surabaya dia janji bantu. Mudah-mudahan dengan menangnya kita kali ini janjinya terbukti. Karena selama ini kita untuk biaya patungan dan ke sana-sini mencari sponsor," jelasnya.

SEM memperlombakan dua kategori, yaitu Prototype dan Urban Concept, dengan menggunakan satu liter BBM atau sumber tenaga dengan jarak tempuh paling jauh. Setiap tim boleh mengajukan kendaraan yang menggunakan salah satu jenis bahan bakar seperti, bensin, solar, bensin alternatif (etanol 100), diesel alternatif (Shell Gas-to-Liquid atau fatty acid methyl ester), baterai elektrik dan hydrogen fuel cell.

SEM Asia 2014 akan memberikan 24 penghargaan On-Track dengan hadiah uang sebesar USD 2.000 dan USD 1.000 untuk pemenang dan runner up di kategori Prototype dan Urban Concept. Selain itu, tim juga akan berlomba untuk enam penghargaan Off-Track yakni Komunikasi, Desain Kendaraan, Inovasi Teknik, Keselamatan, Ketekunan dan Semangat Berkompetisi, dan penghargaan Shell Helix Tribology.

detik
otomotifnet
 
Support : Komunitas Online Mahasiswa Batak
Copyright © 2013. Mahasiswa Batak - All Rights Reserved
Find Us : Twitter | Facebook
Proudly Presented by Generasi Muda Batak